Pengambilan Keputusan

 

Dalam menghadapi situasi saat ini dimana serba ketidakpastian dalam dunia bisnis dan usaha, manajer atau pimpinan perusahaan perlu mempertimbangkan segala sesuatu sebelum mengambil satu keputusan yang tepat

Dua tipe pengambilan keputusan yang ada :

Manager harus mengambil berbagai keputusan. Secara umum, keputusan yang diambil manajer masuk dalam dua kategori : (1) keputusan yang terperogram (programmed dcision) dan (2) keputusan yang tidak terperogram (nonprogrammed decision).

a.       keputusan yang terperogram (programmed dcision)

Keputusan yang terperogram merupakan keputusan yang terstruktur atau yang muncul berulang-ulang atau keduanya. Karena keputusan tersebut muncul berulang-ulang, organisasi biasanya mempunyai aturan, kebijakan, dan prosedur yang dipakai untuk memberi arahan bagaiamana keputusan tersebut dibuat. Sebagai contoh, dalam masalah persedian, keputusan kapan melakukan reorder barang terjadi berulang-ulang. Perusahaan barangkali mempunyai pedoman pada saat persediaan barang tinggal sekian unit. Manajer dalam hal ini tinggal mengambil keputusan sesuai dengan pedoman yang ada. Kadang-kadang keputusan yang terperogram mencakup keputusan yang cukup rumit. Akan tetapi, keputusan tersebut dapat dianilisis menjadi keputusan yang terperogram. Sebagai contoh, menyediakan barang persediaan menjelang Lebaran barangkali merupakan keputusan yang rumit karena Lebaran tidak terjadi setiap bulan. Namun, setelah dianalisis lebih lanjut, keputusan tersebut dapat digolongkan sebagai keputusan yang terperogram. Manager dapat membuat forecast dahulu dengan menganalisis faktor-faktor yang relevan dan kemudian menentukan jumlah persediaan untuk Lebaran. Keputusan tersebut dapat diprogram menjadi beberapa keputusan dengan menggunakan prosedur yang sudah ada.

Keputusan yang terperogram, sampai tingkat tertentu, membatasi kebebasan manajer. Prosedur atau aturan yang menentukan reorder pada saat persediaan tinggal mencapai 100 unit, sebagai contoh, mengharuskan manajer melakukan reorder pada saat mencapai 100 unit. Namun, keputusan terperogram mempunyai manfaat karena membebaskan manager dari tugas-tugas rutin. Dengan demikian, manajer mempunyai waktu yang lebih banyak untuk menangani masalah lain yang lebih penting. Akan tetapi, manajer tidak boleh melupakan situasi luar biasa. Sebagai contoh, menghadapi Lebaran tentu saja tidak sama dengan menghadapi kejadian pada bulan-bulan biasa. Misalnya, suatu organisasi mempunyai kebijakan menghabiskan anggaran tertentu untuk promosi. Jika pada periode sekarang tiba-tiba pesaing menaikkan anggaran promosinya, tentu organisasi harus melakukan antisipasi yang tepat, misalnya ikut menaikkan anggaran promosi. Kalau tidak ada langkah antisipasi, organisasi dapat kehilangan pelanggannya.

 

  

b.      keputusan yang tidak terperogram (nonprogrammed decision).

Keputusan yang tidak terperogram merupakan keputusan yang tidak tersetruktur, jarang muncul, atau keduanya. Keputusan tersebut berasal dari masalah yang luar biasa atau tidak biasa muncul. Karena tidak tersetruktur dan jarang muncul, tidak ada pedoman yang cukup terperinci untuk menangani masalah tersebut. Contoh keputusan tersebut adalah keputusan meluncurkan produk baru, memecahkan masalah penurunan penjualan produk tertentu, dan menangani gugatan hukum terhadap perusahaan. Situasi secamacam itu merupakan situasi “luar biasa” dan karena itu diperlakukan secara khusus. Pengalaman dan intuisi manajer diperlukan untuk memecahkan masalah ini karena belum ada pedoman yang secara khusus menangani masalah tersebut. Keterampilan memecahkan masalah semacam itu menjadi semakin penting dengan semakin tingginya tingkatan manajemen. Karena itu, promosi manajer biasanya melibatkan upaya peningkatan keterampilan untuk memecahkan masalah yang tidak terperogram. Manajer yang akan dipromosikan dapat dilatih lebih dahulu untuk memecahkan masalah-masalah tersebut dengan mengajari pemecahan problem secara sistematis dan membuat keputusan secara logis.

 

Sumber : EKMA4116/MODUL 4 halaman 4.6 s. 4.7

Komentar